Memecahkan Masalah Menggunakan DESIGN THINKING

BERITA GAME DESIGNER Memecahkan Masalah Menggunakan DESIGN THINKING

Memecahkan Masalah Menggunakan DESIGN THINKING

Ketika saya mengambil kuliah Magister Sistem Informasi saya mendapatkan mata kuliah ini dan awalnya bingung... Setelah implementasi langsung di perusahaan saya yaitu Educa Studio, kemudian berlanjut implementasi di berbagai divisi kami yaitu PLAYDAY.id, GAMELAB.ID, Keong Games dan Marbel Junior terasa sekali design thinking memberikan perbedaan baik dalam proses maupun hasilnya. Tentu hasil yang positif yang kami dapatkan sehingga, melalui artikel ini saya merasa wajib untuk membagikan ini kepada teman-teman terutama untuk yang sedang merintis dan mengembangan bisnis, atau sedang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif. 


 

APA ITU DESIGN THINKING?

Menurut interaction-design.org design thinking adalah sebuah metodologi desain yang bertumpu pada pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Design Thinking ditujukan untuk memecahkan masalah yang kompleks yang belum terdefinisi secara jelas atau belum ditemukan solusinya terbaiknya (mungkin sudah ada solusi, tetapi belum maksimal) dengan cara memahami kebutuhan manusia yang terlibat, dengan menciptakan banyak ide dalam sesi brainstorming serta melakukan pendekatan langsung melalui pembuatan prototype dan pengujian langsung.

Design Thinking sendiri dipopulerkan oleh David Kelley dan Tim Brown pendiri IDEO – sebuah konsultan desain yang berlatar belakang desain produk berbasis inovasi. Kita bisa memanfaatkan design thinking untuk mengembangkan perusahaan ini baik itu startup maupun korporasi. Metode ini menggabungkan kebutuhan pengguna dan teknologi terbaru, maka implementasi design thinking akan melahirkan ide-ide baru yang inovatif dan solutif. Sebagai contoh platform GAMELAB.ID lahir karena proses design thinking. Platform ini tumbuh dengan baik dan positif seiring dengan inovasi-inovasi yang tim lakukan di dalamnya. 


 

ELEMEN PENTING DI DALAM DESIGN THINKING

Bersumber dari https://sis.binus.ac.id/ design thinking memiliki 4 elemen penting yaitu : 

1. People centered :

Perlu ditekankan bahwa setiap tindakan harus berpusat pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh user. Tanpa ada kebutuhan dan keinginan, maka solusi yang dibuat hanya akan memecahkan masalah orang tertentu saja impact yang ditimbulkan hanya seperti percikan api kecil. Hati-hati karena kita bisa-bisa hanya akan mengeluarkan energi besar untuk sesuai yang kecil.


2. Highly creative :

Kreativitas dibebaskan sebebas-bebasnya, tidak ada aturan yang kaku dan baku. Bahkan, sebaiknya berkolaborasi dari berbagai bidang yang berbeda untuk melahirkan solusi yang terbaik. 


3. Hands on :

Proses desain itu sendiri dilakukan dengan melakukan percobaan lain. Bukan hanya teori atau hanya sebuah gambar sketsa di atas kertas. 


4. Iterative :

Proses dilakukan dengan tahapan-tahapan yang dikerjakan secara berulang-ulang untuk improvisasi dan menghasilkan solusi terbaik. 


 

3 SIKAP DASAR DI DALAM DESIGN THINKING

Sedangkan menurut http://insight.design/ terdapat 3 sikap dasar yang harus ada di dalam proses design thinking yaitu : 

1. Experimentation

Sikap suka bereksperiman dan keluar dari yang sudah pakem (out of the box) bisa saja menghasilkan solusi-solusi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Lakukan hal-hal yang diluar kebiasaan sehingga mendapatkan experience yang berbeda. Budayakan juga kepada anggota tim kita untuk suka bereksperimen dan melakukan hal-hal baru.

 

2. Testing & Iteration

Uji coba, uji coba dan terus uji coba... Kalau dalam pembuatan game kita mengenal istilah PLAYTESTING. Semakin banyak kita melakukan playtesting, maka game yang kita buat akan semakin teruji dari berbagai sisi. Di Educa Studio sendiri sebuah game bisa mengalami ratusan bahkan ribuan kali pengujian untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Iterasi adalah sesuai yang menjemukan, menjenuhkan dan bahkan membuat bosan, tetapi demi hasil yang terbaik harus dilalui.. Lakukan improvisasi sehingga tim tidak mengalami kejenuhan dalam iterasinya. 

 

3. Collaboration

Untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks, dibutuhkan kolaborasi dengan para ahli di bidangnya. Semangat kolaborasi harus terus digaungkan untuk menemukan solusi terbaik. Pola pikir kolaboratif menjadi WAJIB!


 

5 LANGKAH IMPLEMENTASI DESIGN THINKING

 

1. Emphatise

Tahap pertama adalah kita harus memahami dan berempati pada masalah yang akan kita pecahkan. Bisa juga dalam tahap ini kita berkolaborasi dengan para ahli yang berhubungan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak. Kita juga bisa melakukan pengamatan, terlibat di dalam berbagai kegiatan sampai akhirnya kita memiliki pengalaman pribadi. Hal ini penting untuk mengecilkan asumsi dan memperbesar pemahaman kita tentang kebutuhan dan keinginan stakeholder yang memiliki masalah (aka pengguna akhir). 

 

2. Define

Setelah pada tahap sebelumnya kita mengumpulkan data-data dan informasi, maka pada tahap ini kita bersama tim mendefinisikan masalah inti. Buatlah problem statement yang berfokus pada pengguna akhir. Sebagai gambaran alih-alih kita membuat definisi seperti ini "Bagaimana kita meningkatkan pendapatan 5% di target market pekerja" tetapi versi yang benar adalah "Pekerja membutuhkan perangkat yang tepat untuk mengembangkan skillnya sehingga kehidupannya menjadi lebih mudah".

Tahap define akan membantu tim dalam memahami permasalahan secara lebih mudah dan memikirkan ide-ide sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Ide-ide hebat dapat berupa fungsi-fungsi, fitur-fitur baru dalam aplikasi atau bentuk yang benar-benar experimental yang sebelumnya belum ada. 

 

3. Ideate

Tahap berikutnya adalah mengumpulkan ide-ide solusi dari tim. Ada ratusan teknik dalam mengumpulkan ide-ide seperti Brainstorm, Brainwrite, Worst Possible Idea dan SCAMPER. Silakan gunakan yang mana yang memang efektif dan nyaman digunakan oleh seluruh anggota tim.

Mungkin akan muncul ratusan ide-ide sebagai alternatif solusi masalah yang akan kita pecahkan. Untuk mempermudah bisa mengelompokkan solusi-solusi ke dalam 3 kelompok yaitu feasibility (yang bisa dilakukan melalui teknologi), viability (pengaruhnya terhadap bisnis yang berjalan) dan desirability (yang diinginkan pengguna).  Ambil yang paling bisa dilakukan dahulu untuk masuk ke tahap berikutnya. 

 

4. Prototype

Proses pembuatan prototype itu sendiri akan saya bahas terpisah di artikel yang lainnya, intinya prototype sebagai alat kita mengujicobakan secara langsung kepada pengguna akhir. Prototype atau purwarupa bisa berupa apa saja tergantung ide solusi apa yang akan kita ujicobakan. Fokus pada proses yang akan dilakukan oleh pengguna akhir sehingga kita mendapatkan umpan balik yang sesuai. 

Kalau di dalam pengembangan boardgames, kita bisa mengembangkan purwarupa menggunakan pulpen dan kertas untuk menguji mekanik games dan mendapatkan umpan balik apakah board games tersebut benar-benar sudah sesuai dengan tujuan akhir. Kalau di dalam digital games atau aplikasi kita bisa membuat purwarupa berupa playable games dengan fitur utama yang akan kita ujikan.  Bisa jadi di dalam apps purwarupa kita menggunakan tampilan yang statis untuk menguji bagian user interface dan user experiences (UI/UX).

 

5. Test

Setelah purwarupa selesai, lakukan uji coba kepada pengguna akhir. Jangan lupa untuk selalu mencatat berbagai hal sehingga kita mendapatkan data yang cukup untuk mengambil keputusan. Pengujian dapat dilakukan berulang-ulang (iteration) sampai benar-benar ditemukan solusi terbaik untuk permasalahan yang ada. Kita bisa mengujicobakan banyak ide-ide yang ada di tahap ketiga untuk mencoba solusi baru atau bahkan menggabungkan beberapa ide sekaligus. 

 

Jadi bagaimana teman-teman,,, semoga artikel ini bermanfaat ya... Share pengalamanmu tentang design thinking ke email saya untuk perbaikan artikel ini. Jangan lupa juga ke teman-teman yang lainnya atau ke tim kamu ya... Semoga sukses! 


SUMBER DAN REFERENSI

design thinking solusi masalah startup bisnis pertumbuhan grow hack problem solution
Andi Taru

Andi Taru

Kamis, 6 September 2018