BERITA SELF DEVELOPMENT Hati-hati dengan Toxic Productivity!

Hati-hati dengan Toxic Productivity!


Hati-hati dengan Toxic Productivity!

Pernahkah kamu merasa ketinggalan dari orang lain? Sering merasa orang lain lebih produktif? Pernah merasa bersalah ketika beristirahat? Pernahkah kamu melupakan makan karena terlalu fokus? Hati-hati, bisa jadi kamu mengalami toxic productivity, loh!

Yuk, belajar di GAMELAB ACADEMY, belajar kapan saja, di mana saja. Kurikulum berbasis industri. Dapatkan SERTIFIKAT ketika kamu sudah selesai!

Yuk, ikuti program inovatif MAGANG ONLINE untuk berbagai bidang seperti animasi, coding, 3D, illustrasi, musik dan bisnis hanya di GAMELAB.ID!

Daftar Isi Artikel

Produktif merupakan keinginan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Orang yang produktif adalah orang yang memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin dan produktif merupakan suatu hal yang baik. Toksik (toxic) artinya beracun, kalimat “Segala hal yang berlebihan itu tidak baik” tentunya sudah tidak asing. Belakangan ini karena adanya perubahan kebiasaan beraktivitas di luar menjadi dibatasi hanya di rumah saja seperti kerja dan bersekolah dari rumah, istilah Toxic Productivity muncul.

Keinginan orang-orang untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin semakin meningkat hingga seolah-olah muncul ‘kompetisi’ produktif. 

Apa itu Toxic Productivity?

Secara singkat, toxic productivity adalah obsesi terhadap produktivitas. Dengan kata lain adanya keinginan untuk menjadi produktif setiap saat dengan cara apapun. Toxic productivity pengembangan dari istilah workaholic (gila kerja).

Seseorang yang terjerat toxic productivity cenderung sering mengkritik, menuntut diri sendiri seakan belum melakukan apa-apa, dan melupakan pencapaian yang telah diraih. Toxic productivity akan mempengaruhi kualitas atau output tugas yang kamu kerjakan dan juga mempengaruhi hidup seperti menguras energi dan menimbulkan kelelahan mental sekaligus fisik. Orang yang terjebak dalam toxic productivity mendapat kepuasan ketika sudah banyak hal yang berhasil dikerjakan, bukan seberapa bagus yang output atau hasil yang ia kerjakan.

Mengapa Bisa Muncul Toxic Productivity?

Awal muncul karena kecenderungan orang ingin melakukan sesuatu yang bernilai dan produktif hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan aktivitas seperti bekerja dan bersekolah dari rumah, sehingga waktu bekerja dan belajar menjadi lebih fleksibel. Meningkatnya waktu bermedia sosial dan konten yang tersebar di media sosial berupa unggahan-unggahan teman di media sosial yang menunjukkan sedang melakukan hal produktif seperti belajar hal baru, melakukan hobi baru, dan yang lainnya. Kemudian akhirnya membanding-bandingkan diri dengan orang lain dan merasa tertinggal lalu timbul keinginan dari diri ingin lebih produktif atau setara produktifnya dengan orang lain. Dan pada akhirnya, mengalami kewalahan karena tidak mencapai harapan ‘produktif’ tersebut. 

Menurut Erikavitri Yulianti, seorang psikiater mengatakan pada webinar di Universitas Airlangga bahwa toxic productivity muncul karena ketidakpastian pandemi sehingga muncul ketakutan dalam diri dan melakukan toxic productivity adalah cara memberikan rasa aman untuk mengatasi ketakutan tersebut.  

Tanda-tanda Mengalami Toxic Productivity

Inilah tanda-tanda kamu mengalami toxic productivity :

  1. Sering merasa kelelahan saat baru bangun tidur. Terlalu cepat merasa kelelahan merupakan salah satu ciri dari terjerat toxic productivity.
  2. Merasa semua kegiatan yang akan dilakukan harus ada maknanya. Ketika ada yang mengajak untuk jalan-jalan sebentar, orang yang terjebak toxic productivity akan menolak ajakan tersebut karena menganggap kegiatan tersebut tidak ada maknanya bagi dirinya. 
  3. Terlalu banyak bekerja hingga melupakan kesehatan dan hubungan antar sesama. Contohnya  adalah ketika bekerja atau belajar hingga mengabaikan makan, tidur, tidak sempat bersosialisasi dengan teman, keluarga karena menganggap bersosialisasi itu membuang-buang waktu.
  4. Punya ekspektasi yang tidak realistis. Ingin menghasilkan output atau hasil kerja yang sama dari diri setiap hari. Padahal ada faktor-faktor eksternal (yang tidak bisa diubah) dan stres yang dapat mempengaruhi hasil kerja atau output tersebut.
  5. Merasa bersalah jika beristirahat. Padahal istirahat bukanlah tanda kemalasan atau kelemahan, dengan beristirahat akan membantu untuk menenangkan pikiran dan setelah beristirahat juga fokus akan meningkat. Orang yang terjerat dalam toxic productivity akan merasa bersalah atau tidak mau untuk beristirahat sebentar karena menganggap istirahat sama dengan tidak melakukan apapun dan itu tidak berguna bagi orang-orang tersebut.

Cara Mengatasi Toxic Productivity

Ketika kamu mengalami toxic productivity, kamu tidak usah khawatir karena tidak hanya kamu yang mengalaminya, tiga cara ini dapat kamu terapkan untuk mengatasi hal tersebut :

  1. Membuat goal atau tujuan yang realistis. Bagaimana cara membuat goal atau tujuan yang realistis? Menyusun tujuan yang fleksibel dengan mempertimbangkan keterbatasan diri misalkan kondisi fisik dan jika tujuan terlalu besar maka ubah menjadi tujuan-tujuan kecil.
  2. Mengelola waktu dengan baik sesuai dengan bioritme diri. Bioritme diri atau jam biologis diri adalah kecenderungan seseorang fokus di jam-jam tertentu. Secara umum, terbagi menjadi dua yaitu night owl (kecenderungan seseorang fokus di malam hari) dan early owl (kecenderungan seseorang fokus di pagi hari). Selain itu, mengatur batasan-batasan tertentu seperti tidur minimal 7 jam sehari, istirahat 15 menit setelah 1 jam bekerja atau belajar.
  3. Menerapkan waktu tech free atau beristirahat dari paparan teknologi. Misalkan di akhir pekan menetapkan waktu istirahat tidak membuka handphone dari pagi hingga siang.

Sebagai penutup, ada hal yang harus kamu ingat mengenai produktivitas!
“Produktivitas bukan tentang perlombaan siapa yang paling produktif.  Lihatlah ke diri sendiri, kenali kemampuan diri dan batasan diri.”


Sumber :
Akhter, K. & Vaidyanathan, P. (21 Mei 2020). What Is Toxic Productivity? And How Can We Avoid it?.The Quint. https://www.thequint.com/lifestyle/life/toxic-productivity-avoid-during-covid-19-lockdown#read-more
Andersen, C. H. (17 Mei 2021). 9 Signs Toxic Productivity Is Impacting Your Life. MSN. https://www.msn.com/en-us/health/wellness/9-signs-toxic-productivity-is-impacting-your-life/ar-BB1gPq1C
Ikandani, A. (14 Juli 2021). Menghindari Toxic Productivity di Masa Pandemi. UNAIR NEWS. http://news.unair.ac.id/2021/07/14/menghindari-toxic-productivity-di-masa-pandemi/


Jenisa Laras Galuh Safitri

Jenisa Laras Galuh Safitri

Senin, 30 Agustus 2021