BERITA QA&TESTING 7 Prinsip Jadi Seorang Game Tester

7 Prinsip Jadi Seorang Game Tester


#game tester #q&a dan testing #prinsip testing
7 Prinsip Jadi Seorang Game Tester

Mau jadi seorang game tester? Ini dia 7 prinsip yang harus kalian ketahui

Ciptakan lingkungan belajar yang lebih MENYENANGKAN dengan GAME-BASED LEARNING!

Software testing adalah proses mengekseskusi program atau aplikasi dengan maksud untuk menemukan Bug , Error atau Suggest dari suatu perangkat lunak yang dibuat.

Software Testing

Testing juga merupakan proses yang memerlukan kreativitas dan 'kenakalan'.  Untuk melakukan testing pada software tidak selalu semua testing berjalan lancar tetapi kita sebagai tester (orang yang melakukan testing software) harus berfikir bagaimana cara testing tersebut tidak berjalan lancar oleh karena itulah perlu kenakalan tersebut.

Testing memerlukan ketahanan seseorang untuk untuk menghadapi sesuatu terus menerus, karena setiap hari seorang tester pasti akan berhadapan dengan hal yang sama dan harus kreatif.

7 Prinsip Jadi Seorang QA & Tester

Ingin berkecimpung atau setidaknya ingin belajar menjadi seorang tester softeare atau game, kalian tentu harus tahu ketujuh prinsip-prinsip ini terlebih dahulu. Check this out!

1. Testing Menunjukan adanya Bug

BugTesting menunjukan menunjukan bahwa ada defect dalam program, tapi testing tidak dapat memastikan bahwa sebuah aplikasi bebas dari error. misalkan tester dari sebuah aplikasi menemukan defect dalam aplikasi itu ketika berhasil dilakukan fixed oleh develeper lalu ketika di testing ulang sudah tidak ada defect itu bukan berarti aplikasi sudah bebas dari error bisa jadi belum ada skenario yang dilakukan pada testing.

2. Tidak mungkin dilakukan exhaustive testing

Dalam Testing, tidak mungkin dilakukan semua kombinasi data dan skenario yang mungkin (kecuali jika AUT-nya mempunyai  logika yang sangat simpel). Oleh karena itu, diperlukan prioritas untuk berkonsentrasi pada aspek paling penting untuk di tes.

3. Early Testing

Early TestingTesting sebaiknya dilakukan seawal mungkin. Apabila ditemukan lebih awal, maka akibat yang ditimbulkan serta biaya untuk memperbaikinya akan jauh lebih kecil daripada sudah diakhir. Contohnya melakukan testing sebelum aplikasi dirilis jadi yang mendapatkan error adalah internal perusahaan berbeda halnya dengan melakukan testing sesudah aplikasi dirilis maka banyak pengguna yang mendapatkan error sehingga menyebabkan biaya perbaikan lebih besar dan penurunan reputasi perusahaan.

4. Defect Clustering

Pareto Principle

Bug tidak berada secara merata di seluruh aplikasi, dengan defect clustering berarti bahwa sejumlah fitur kecil yang terkena bug telah menyebabkan sebagian besar masalah kualitas dalam aplikasi.  Biasanya dalam testing juga terjadi pareto principle , dimana sekitar 80% masalah ditemukan dalam 20% modul.

5. Pesticide Paradox

Pict : victorhorescu.comJika test dilakukan secara terus menerus, maka kemungkinan ditemukan defectnya sangat kecil. Meskipun demikian, dalam setiap perubahan (misal ditambahkan fungsional baru), kita perlu melakukan regression testing untuk memastikan bahwa perubahan baru tidak berefek pada perubahan yang ada.

6. Testing is context dependent

Context DependentJenis aplikasi mempengaruhi metodologi, teknik dan tipe tes yang dilakukan. Misalnya aplikasi untuk Medis perlu dites terkait resikonya dengan menggunakan exhaustive testing misalkan terhadap pasien atau regulasi yang ada, tidak seperti games yang hanya mencari defect saja.

7.Absence of error fallacy

absence of error fallacyKetika defect tidak ditemukan, bukan berarti bahwa AUT sudah siap direlease ke publik. Ketika ini terjadi, maka perlu dilakukan review apakah yang test case dilakukan sudah tepat? Perlu juga dilakukan tes apakah sudah sesuai dengan user requirement? Bisa juga ada penemuan ide baru pada AUT sehingga harus testing kembali dan sebagainya.

Semoga artikel ini bermanfaat, sampai bertemyu di artikel lainnya.


Muhamad Gilang Ginanjar

Muhamad Gilang Ginanjar

Kamis, 16 Juli 2020