BERITA PENDIDIKAN Menanamkan Nilai Moralitas Pada Usia Dini

Menanamkan Nilai Moralitas Pada Usia Dini


Menanamkan Nilai Moralitas Pada Usia Dini

Dalam pendidikan anak usia dini salah satu kawasan yang harus dikembangkan adalah nilai moral, karena dengan diberikannya pendidikan nilai dan moral sejak usia dini, diharapkan pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, ben

Ciptakan lingkungan belajar yang lebih MENYENANGKAN dengan GAME-BASED LEARNING!

Aktivitas di kantor membosankan?
Karyawan engangement kurang?
GAMIFIKASI-IN aja!

Daftar Isi Artikel

MENANAMKAN NILAI MORALITAS PADA USIA DINI

1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan karakter berisi nilai-nilai moral untuk anak sangat penting untuk dikenalkan sejak usia dini karena potensi kemampuan anak yang luar biasa untuk menyerap segala hal disekitarnya. Salah satu strategi yang dapat digunakan pendidik untuk menanamkan nilai tersebut adalah dengan bercerita. Pendidik dapat menggunakan cerita-cerita rakyat yang ada di lingkungannya untuk mengenalkan nilainilai moral dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian budaya terhadap nilai-nilai positif yang ada dalam masyarakat. Cerita rakyat menggunakan latar belakang budaya yang dekat dengan anak, memudahkan anak untuk memahami cerita dan mengimplementasi cerita tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pengertian Anak Usia Dini

Usia dini merupakan masa penting, karena dalam masa ini ada era yang dikenal dengan masa keemasan (golden age). Masa keemasan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Pada masa ini merupakan masa kritis bagi perkembangan anak. Jika dalam masa ini anak kurang mendapat perhatian dalam hal pendidikan, perawatan, pengasuhan dan layanan kesehatan serta kebutuhan gizinya dikhawatirkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam pendidikan anak usia dini salah satu kawasan yang harus dikembangkan adalah nilai moral, karena dengan diberikannya pendidikan nilai dan moral sejak usia dini, diharapkan pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, benar salah, sehingga ia dapat menerapkannya dalam kegidupan sehari-harinya. Ini akan berpengaruh pada mudah tidaknya anak diterima oleh masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisasi.

3. Tahapan Penanaman Nilai Dan Moral Pada Usia Dini

Tahapan penanaman nilai moral pada anak usia dini harus menekankan tiga komponen karakter yang baik dan harus ditanamkan sejak dini yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), dan moral action (perbuatan moral).

Moral adalah berkenaan dengan kesusilaan. Seorang individu dapat dikatakan baik secara moral apabila bertingkah 5 laku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang ada. Sebaliknya jika perilaku individu itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada, maka ia akan dikatakan jelek secara moral.

Nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Ada dua nilai yaitu nilai ideal dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai-nilai yang menjadi cita-cita setiap orang, sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai terbagi menjadi dua, yaitu nilai obyektif dan nilai subyektif. Nilai obyektif atau nilai universal yaitu nilai yang bersifat instrinsik, yaitu nilai hakiki yang berlaku sepanjang masa secara universal. Termasuk dalam nilai universal ini antara lain hakikat kebenaran, keindahan dan keadilan. Adapaun nilai subyektif yaitu nilai yang sudah memiliki warna, isi dan corak tertentu sesuai dengan waktu, tempat dan budaya kelompok masyarakat tertentu.

Nilai dalam pendidikan karakter pada anak usia dini sesuai PP No.58 suplemen kurikulum mencakup empat aspek yaitu aspek spiritual, aspek personal, aspek sosial dan aspek lingkungan. Nilai-nilai yang dianggap baik dan penting untuk dikenalkan dan diinternalisasikan untuk anak usia dini sesuai suplemen PP No.58 yaitu mencangkup sebagai berikut. Pertama kecintaan terhadap Tuhan YME artinya nilai yang didasarkan pada perilaku yang menunjukkan kepatuhan kepada perintah dan larangan Tuhan YME yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, kejujuran, disiplin artinya nilai yang berkaitan dengan ketertiban dan keteraturan, Contoh dari penanaman sikap disiplin yaitu membantu anak untuk mengatur waktu bermain, datang tepat waktu. Kejujuran adalah keadaan yang terkait dengan ketulusan dan kelurusan hati untuk berbuat benar. Ketiga percaya diri artinya sikap yang menunjukkan bahwa anak mampu memahami diri dan nilai harga diri contohnya menyemangati diri sendiri disaat dalam keadaan susah agar mempunyai rasa percaya diri yang besar. Keempat mandiri artinya tidak bergantung pada orang lain dengan membiasakan anak menentukan, melakukan, memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan atau dengan bantuan yang seperlunya, contohnya memberi anak kesempatan untuk mencoba mengerjakan sesuatu sendiri. Kelima kreatif artinya seseorang dapat melahirkan sesuatu yang baru contohnya mengajak anak melihat pameran, berkarya wisata, menyediakan berbagai buku bacaan. Keenam kerja keras artinya mengerjakan sesuatu hingga selesai dengan gembira, contohnya anak mencoba dan terus mencoba. Ketujuh rendah hati artinya mencerminkan kebesaran jiwa seseorang dan sikap tidak sombong dan bersedia untuk mengalami kehebatan orang lain, contohnya meminta maaf jika salah. Kedelapan peduli lingkungan artinya anak mempunyai kebiasaan posistif terhadap lingkungannya, contohnya merawat lingkungan sekitar.

Tahap kedua, anak harus berbuat sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam masyarakat agar dapat diterima dan terhindar dri ketidaksetujuan sosial. Tahap moralitas terakhir yaitu pascakonvensional yaitu moralitas yang sesungguhnya, tidak perlu disuruh, merupakan kesadaran dari diri orang tersebut. Tahap ini pula terbagi atas dua tahap yaitu tahap dimana seseorang perlu keluwesan dan adanya modifikasi dan perubahan standar moral jika dapat menguntungkan kelompok secara keseluruhan. Tahap selanjutnya adalah tahap seseorang menyesuaikan diri dengan standar sosial dan cita-cita internal terutama untuk menghindarkan rasa tidak puas dengan diri sendiri.


Qoriah

Qoriah

Jumat, 8 Oktober 2021