Menjadi nahkoda institusi pendidikan di era digital saat ini bukanlah tugas yang mudah. Satu sisi, teknologi membuka akses wawasan tanpa batas bagi para siswa. Namun di sisi lain, ada tantangan besar bernama disrupsi sosial. Dulu, siswa hanya bisa menggunakan buku untuk belajar. Saat ini, kebiasaan belajar siswa berbeda, mereka lebih sering menatap layar untuk mencari sumber informasi dan inspirasi.
Lalu, bagaimana sebuah sekolah dapat melakukan digitalisasi secara maksimal tanpa harus melunturkan karakter dan moral siswanya? Mari kita simak kisah inspiratif dan visioner dari Bapak Kurnia Aprianto, S.Pd., selaku Kepala SMK AL Islam Surakarta berikut ini.
Tantangan Pendidikan Karakter di Era Digital
Banyak sekolah merasa cemas dengan paparan gawai anak didik. Pak Kurnia mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah pergeseran kebiasaan siswa yang sulit dipisahkan dari gawai. Namun Pak Kurnia tidak menyerah, beliau tetap memegang komitmen sekolah untuk membangun karakter siswa. Alih-alih melarang penggunaan teknologi sepenuhnya, sekolah merancang strategi sebagai penyeimbang.
"Sebagai contoh, di bulan suci Ramadhan kami rutin mengadakan kegiatan Tadarus Al-Qur'an. Ini adalah upaya kami untuk mengistirahatkan siswa sejenak dari gawai. Sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual mereka." ungkap Pak Kurnia. Langkah ini terbukti efektif untuk menjaga mental dan spiritual siswa.
.png?1773731208255)
Makna Filosofis: Jago Komputer, Ngaji Pinter
Jago Komputer, Ngaji Pinter. Ini bukan sekedar slogan, tapi melainkan pedoman yang dipegang oleh SMK AL Islam Surakarta. Berbeda dengan sekolah yang ragu beradaptasi, bersama Pak Kurnia, SMK AL Islam Surakarta justri melihat teknologi sebagai peluang, terlebih karena mereka memiliki keunggulan di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan.
Beliau sering mengutip Hadis Riwayat Thabrani tentang pentingnya itqan, yang maknanya berarti bekerja dengan tepat dan sungguh-sungguh. Nilai ini dianalogikan dengan konsep bilangan biner dalam IT.
"Dalam bilangan biner, kesalahan satu bit saja bisa mengubah hasil secara total. Ini mengajarkan pentingnya ketelitian dalam coding dan jaringan." paparnya. "Sistem biner bekerja dengan pilihan yang tegas, antara 0 dan 1. Hal ini sejalan dengan ajaran Al-Quran agar manusia berpikir logis, lurus dan bertanggung jawab. Jadi, belajar teknologi adalah melatih cara berpikir."
Langkah Nyata Membangun Ekosistem Digital Sekolah
Keberanian untuk beradaptasi dengan kebutuhan industri diwujudkan melalui langkah yang nyata. Menyadari bahwa lulusan SMK harus siap menghadapi dunia kerja, SMK AL Islam Surakarta membiasakan siswanya dengan budaya digital sejak dini.
Salah satu wujud implementasi sederhananya adalah penerapan sistem absensi menggunakan barcode dan menggandeng Gamelab untuk menggunakan Learning Management System (LMS) yang Gamelab miliki. Langkah ini membuktikan bahwa digitalisasi bukan sekedar teori di dalam kelas, melainkan budaya yang dipraktikkan dalam kegiatan operasional sekolah sehari-hari.
Pak Kurnia menyadari bahwa kurikulum standar TKJ saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. Siswa membutuhkan nilai plus. Maka, implementasi Kelas Industri Gamelab merupakan salah satu wujud ikhtiarnya.
Keputusan strategis ini membawa angin segar bagi ekosistem sekolah. Sentuhan langsung dari praktisi industri Gamelab membawa perubahan budaya yang sangat positif.
"Dari sisi siswa dan guru, semuanya menjadi jauh lebih aware dan aktif karena terbiasa bekerja dengan target." jelas beliau.
Lebih lanjut, metode dan kurikulum Gamelab sangat membantu para guru dalam merancang konsep pembelajaran IT yang jauh lebih menyenangkan dan relevan dengan industri. Tak hanya itu, adanya Sertifikat Kelas Industri Gamelab juga menjadi senjata yang kuat bagi lulusan saat mereka melamar pekerjaan.
Baca Juga : Membawa Dunia ke Ruang Kelas SMKS Maharati
Berani Berubah atau Tertinggal Zaman
Di ujung perbincangan, beliau berpesan. "Digitalisasi adalah kunci kemajuan bersama. Tanpa keberanian untuk beradaptasi dan tampil berbeda, kita akan tertinggal dan tergerus oleh perkembangan zaman," tegasnya. Beliau juga membagikan mindset kepemimpinan yang bijak, "Perbedaan itu bukan sesuatu yang untuk didebatkan, tetapi sesuatu yang perlu dihormati."
Kisah SMK AL Islam Surakarta menjadi bukti nyata bahwa visi kepemimpinan yang tangguh, dipadukan dengan kemitraan yang strategis bersama Gamelab Indonesia mampu mencetak lulusan yang cerdas secara teknologi sekaligus mulia secara akhlak.
Mari cetak lulusan SMK yang berkompeten dan memiliki keterampilan yang relevan dengan kondisi industri terkini. Hubungi Gamelab sekarang untuk info Kelas Industri di sini.