Cerita ini bermula dari sebuah kegelisahan yang tentu dirasakan oleh banyak sekolah vokasi lainnya. Tahun 2022, antusiasme anak-anak Ketapang untuk masuk ke jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) sangatlah tinggi. Sayangnya, realitas di lapangan justru bertepuk sebelah tangan.
"Mencari tempat PKL yang sinkron dengan jurusan digital dan teknologi itu susahnya bukan main di Ketapang. Hanya ada 2 perusahaan besar yang linear, sisanya tidak pas." Ujar Ibu Erini, S.P., M.M.Pd.
Beliau sadar betul, jika anak-anak hanya dikungkung dengan kurikulum standar tanpa sentuhan industri nyata, mereka akan tertinggal jauh dari anak-anak di pulau Jawa. Titik balik itu datang secara tidak terduga ketika perwakilan humas sekolah menghadiri sebuah kegiatan di Bali dan bertemu dengan tim Gamelab Indonesia. Dari sanalah rajutan kerja sama Kelas Industri dimulai.
Membawa Dunia Kerja ke Hadapan Siswa
Ibu Erini paham bahwa transformasi tidak bisa dilakukan parsial. Beliau mulai bergerak membenahi tiga pilar utama diantaranya sarana, kompetensi guru dan dukungan orang tua.
Sekolah mulai merombak laboratorium komputer agar standarnya setara dengan industri. Lebih penting dari itu, para guru ditantang untuk mengikuti upskilling dari kemeterian maupun industri. Orang tua murid pun dirangkul, mereka diberikan pemahaman mengapa anak-anak jurusan teknologi membutuhkan "senjata" belajar mereka dan harus ada program tambahan dari industri yang sesuai.
Hasil dari ekosistem yang sehat ini luar biasa. Di dalam ruang lab sekolah, sekat geografis ini runtuh. Anak-anak Ketapang tidak lagi sekedar belajar teori yang sudah usang. Mereka langsung memegang proyek nyata dari industri, di hadapan mereka.
Kontribusi nyata mereka langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Pada sebuah acara gebyar vokasi, para siswa berhasil membuat website gratis untuk 35 UMKM lokal di Ketapang. Berkat jemari terampil anak--anak ini, nama-nama usaha lokal yang ada di Ketapang memiliki wajah digital.

Mental Baja Anak Pedalaman
Dampak Kelas Industri ini ternyata melompat jauh di luar perkiraan. Kepercayaan diri anak-anak Ketapang melesat tinggi. Tanpa diminta oleh guru, beberapa siswa secara mandiri mendaftar dan berhasil lolos ke ajang nasional dengan menciptakan konten kreatif.
Bahkan, lulusan mereka kini sudah ada yang langsung direkrut sebagai programmer di sebuah software house di Ketapang yang berpusat di Jakarta.
"Anak-anak ini sekarang bisa bekerja sebagai programmer profesional dari rumah mereka sendiri di Ketapang, berpenghasilan, tapi proyeknya standar Jakarta. Ini yang membuat saya sangat terharu." ujar Bu Erini dengan mata berbinar.
Baca Juga : Membawa Dunia ke Ruang Kelas SMKS Maharati
Meraih Penghargaan Gubernur
Berdaya untuk sesama. Kegigihan Ibu Erini tidak hanya membawa perubahan di dalam pagar sekolah. Sebagai ketua MKKS, beliau menginisiasi kolaborasi antara program CSR industri dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk memberikan pendidikan Kesetaraan Paket A, B dan C bagi para pekerja serta masyarakat sekitar yang putus sekolah. Ikhtiar ini dilakukan demi mendongkrak Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) di Kabupaten Ketapang.
Atas dedikasi dan inovasi tanpa batas ini, Ibu Erini dianugerahi penghargaan langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat sebagai penggerak pendidikan vokasi yang inspiratif.
Di akhir perbincangan, Ibu Erini menitipkan prinsip hidup yang mendalam bagi seluruh kepala sekolah dan pendidik di Indonesia:
"Lakukan apa yang orang lain sulit melakukan, selama itu dalam hal kebaikan."
Ibu Erini dan anak-anak Ketapang telah membuktikan bahwa keterbatasan sinyal, jarak dan fasilitas bukan alasan untuk menyerah, pada nasib. Ketika sebuah ruang kelas terkoneksi dengan industri yang tepat, dari sudut terjauh Kalimantan sekalipun, talenta-talenta digital masa depan bisa lahir dan bersinar.
Mari cetak lulusan SMK yang berkompeten dan memiliki keterampilan yang relevan dengan kondisi industri terkini. Hubungi Gamelab sekarang untuk info Kelas Industri di sini.